Langsung ke konten utama

Malu Pada Dunia

Buaya berkalung ban di Sungai Palu. Sumber: liputan6.com
Kamis lalu, setelah keliling-keliling cari tempat makan untuk makan siang namun gak ada yang cocok, akhirnya pilihan jatuh pada warung waralaba asal Amerika milik seorang kolonel yang terkenal dengan ayam gorengnya itu. "Yang pasti-pasti saja," pikirku. Sebenarnya, banyak pilihan lain, tapi kondisi badan yang masih dalam tahap penyembuhan, membuat lidahku terkadang 'gak nerima' dengan makanan yang terlalu banyak rempahnya.

Di meja sebelahku, duduk empat orang gadis-gadis berpakaian SMA yang asyik ngobrol dan sesekali tertawa cekikikan. Salah satu yang mereka bahas, adalah tentang 'kemunculan' buaya berkalung ban di sungai Palu. Bukannya nguping, tapi suara mereka memang cukup keras untuk terdengar sampai di mejaku. Kemunculan buaya yang di lehernya melilit sebuah ban bekas sepeda motor itu, memang membuat warga kota Palu heboh. Apalagi setelah Muhammad Panji, atau yang lebih dikenal dengan sebuatan Panji Sang Petualang yang aksinya menaklukkan binatang-binatang buas pernah menghiasi layar tv itu ikut untuk mencoba mengevakuasi si buaya. Maka keberadaan buaya berkalung ban di Kota Palu semakin terkenal.

"Tahu gak, buaya berkalung ban itu sudah mendunia. Banyak media-media asing yang meliputnya," seru salah seorang gadis tersebut.

"Iya, wah bisa terkenal Kota Palu. Usul saya, buaya berkalung ban itu dibikinin patung saja. Biar jadi ikon kota Palu," timpal seorang temannya, gadis berkacamata dengan rambut panjang yang diikat menyerupai ekor kuda.

Pembahasan mengenai si buaya berkalung ban yang ada di sungai Palu memang lagi menjadi trending topic di kalangan warga Palu. Dari media nasional hingga media internasional ikut meliput keberadaan dan proses evakuasi si buaya. Mirisnya, banyak yang membicarakannya dengan nada bangga, padahal kejadian ini bukanlah sesuatu yang patut untuk dibanggakan.

Buaya berkalung ban itu, seharusnya menjadikan warga kota Palu menjadi malu. Pasalnya, ban yang melilit di leher sang buaya adalah pesan tersirat dari alam bagaimana warga kota ini masih tidak peduli pada lingkungannya. Bayangkan saja, sampah sekelas ban bekas motor saja bisa dibuang di sungai, apalagi sampah-sampah kecil lainnya. Sungai Palu yang seharusnya indah, malah seperti tempat sampah raksasa.

Sampah di Sungai Palu. Sumber: jpnn.com
Padahal kontur Kota Palu yang berada di lembah, sebenarnya sangat indah. Apalagi keberadaan sungai Palu yang membelah kota Palu dan bermuara di teluk Palu tepat di bawah Jembatan IV Kota Palu yang sangat ikonik itu. Mungkin gambarannya seperti sungai Seine yang mengalir di samping menara Eiffel. Lebih dari itu, kota Palu dikelilingi dengan gunung-gunung tinggi di sekelilingnya yang berdiri kokoh bagaikan benteng alami yang melindungi kota Palu.

Konon, penamaan bandara kota Palu dengan nama Bandara Mutiara terinspirasi dari ucapan Bung Karno ketika melayang dengan pesawat di atas kota Palu. Bung Karno, sangat kagum dengan keindahan kota Palu dan menyebutnya bersinar seperti mutiara. Hem, seandainya saja Bung Karno kembali melayang di atas kota Palu saat ini, apakah beliau akan kembali menyebut kota Palu seperti mutiara?

Teluk Palu. Sumber: Metro Sulawesi


#I_Love_Palu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilan, Zainuddin, dan Fahri.

Akhir-akhir ini nama Dilan tiba-tiba menjadi trending topic dalam setiap pembicaraan, baik di dunia nyata, apalagi di dunia maya. Media sosial apapun, Facebook, Twitter, maupun Instagram tidak lepas dari pembicaraan tentang Dilan. Penasaran, sore tadi aku memutuskan untuk mengunjungi bioskop dan menonton film tentang Dilan. Judul filmnya, "Dilan 1990" disutradarai oleh Fajar Bustomi dan merupakan adaptasi dari novel karya Pidi Baiq yang berjudul "Dilan dia adalah Dilanku tahun 1990". Aku tidak akan mengomentari novel tersebut, karena aku juga belum pernah membaca secara lengkap novel tersebut, hanya membaca sedikit-sedikit dari penggalan-penggalan novel tersebut yang dishare oleh teman-teman di media sosial.
Tapi ketika menonton film tersebut, aku sangat tertarik dengan Om Dilan. Om Dilan? Iya, kalau pada tahun 1990 Dilan sudah SMA, berarti dia lebih pantas aku panggil Om. Karena pada tahun 1990 aku baru masuk kelas 1 Sekolah Dasar. Hehehe... Tokoh Dilan sangatlah…

Super Blue Blood Moon

Malam ini, 31 Januari 2018 terjadi sebuah fenomena yang konon terakhir kali terjadi sekitar 152 tahun yang lalu. Fenomena tersebut adalah gerhana bulan yang disebut Super Blue Blood Moon. Nama yang indah untuk sebuah gerhana bulan. Dari penjelasan para ilmuwan, nama itu sebenarnya menggabungkan tiga nama sekaligus, yaitu Super Moon, Blue Moon, dan Blood Moon. Kenapa seperti itu? Karena memang fenomena yang terjadi malam ini adalah gabungan dari tiga fenomena tersebut. Luar biasa bukan? Fenomena pertama adalah Super Moon. Disebut seperti itu, karena bulan akan terlihat berukuran super alias lebih besar dari biasanya. Penyebabnya adalah karena bulan masih berada di titik terdekatnya dengan bumi. Berarti, jarak bulan dan bumi tidak selalu sama? Iya, karena jalur lintasan rotasi bulan mengelilingi bumi tidak berbentuk bulat sempurna. Fenomena kedua adalah Blue Moon. Istilah Blue Moon adalah istilah untuk bulan purnama yang terjadi dua kali dalam sebulan. Faktanya, di bulan Januari 2018 t…