Langsung ke konten utama

Dilan, Zainuddin, dan Fahri.


Akhir-akhir ini nama Dilan tiba-tiba menjadi trending topic dalam setiap pembicaraan, baik di dunia nyata, apalagi di dunia maya. Media sosial apapun, Facebook, Twitter, maupun Instagram tidak lepas dari pembicaraan tentang Dilan. Penasaran, sore tadi aku memutuskan untuk mengunjungi bioskop dan menonton film tentang Dilan. Judul filmnya, "Dilan 1990" disutradarai oleh Fajar Bustomi dan merupakan adaptasi dari novel karya Pidi Baiq yang berjudul "Dilan dia adalah Dilanku tahun 1990". Aku tidak akan mengomentari novel tersebut, karena aku juga belum pernah membaca secara lengkap novel tersebut, hanya membaca sedikit-sedikit dari penggalan-penggalan novel tersebut yang dishare oleh teman-teman di media sosial.

Tapi ketika menonton film tersebut, aku sangat tertarik dengan Om Dilan. Om Dilan? Iya, kalau pada tahun 1990 Dilan sudah SMA, berarti dia lebih pantas aku panggil Om. Karena pada tahun 1990 aku baru masuk kelas 1 Sekolah Dasar. Hehehe... Tokoh Dilan sangatlah unik, kelihatan cuek, tapi perhatian dan romantis. Gombalan-gombalan Dilan yang diperankan oleh Iqbaal Ramadhan sukses membuat penonton yang didominasi oleh ABG-ABG perempuan berteriak-teriak dengan rasa gemas.

Berbicara mengenai tokoh pria plamboyan, Dilan bukanlah satu-satunya. Masih ada tokoh rekaan Buya HAMKA yang bernama Zainuddin dalam novelnya yang berjudul Tenggelamnya Kaval Van Der Wijk, dan Fahri yang merupakan tokoh sentral dalam novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Zhirasy. Baik Dilan, Zainuddin, maupun Fahri adalah tokoh dari novel dan film yang bertemakan cinta. Namun, ada perbedaan pandangan antara Dilan , Zainuddin, dan Fahri dalam memandang cinta.

Dilan dan cintanya pada Milea

Dilan memandang cinta seperti pemujaan. Dilan mencintai Milea dan dia sangat memuja Milea. Dilan bahkan sanggup melakukan hal-hal gila, hanya untuk Milea. Bahkan dalam sebuah dialog, Dilan berkata, "Kalau kepala sekolah berani menampar Milea, maka aku bakar sekolah ini." Cinta Dilan pada Milea, membuat Dilan menomorduakan etika dan akalnya. Tapi, hal-hal gila itulah yang disebut oleh para ABG-ABG zaman now sebagai romantis.

Pusat dari kehidupan Dilan hanyalah Milea. Milea bagi Dilan, seperti matahari bagi galaksi Bima Sakti. Tanpa Milea, maka tidak akan ada kehidupan bagi Dilan. Kalau Dilan kelak akan menikah dengan Milea, hampir pasti Dilan akan menjadi suami yang takut istri. Hehehe...

Zainuddin dan cintanya pada Hayati

Cinta Zainuddin pada Hayati adalah cinta yang realistis. Zainuddin yang menyadari beratnya memperoleh cinta Hayati, memilih untuk memperjuankannya. Betapapun Zainuddin sangat mencintai Hayati, tapi dia tidak berani menabrak norma agama dan adat demi mendapatkan Hayati. Bagi Zainuddin, mencintai tidak harus membuatnya menjadi gila. Walaupun sempat merasakan sakit ketika ditinggal kawin oleh Hayati, tapi Zainuddin tidak berlarut-larut dalam kesedihannya. Energi cintanya pada Hayati, kemudian berubah menjadi semangat hidup untuk memperbaiki nasibnya di perantauan.

Walaupun pada akhirnya cinta Zainuddin harus tenggelam bersama Hayati di kapal Van Der Wijk, Zainuddin tetap realistis. Cinta Zainuddin memang tidak mati bersama Hayati, tapi Zainuddin selalu bisa memanfaatkan energi cintanya dengan baik. Zainuddin lebih memilih berdamai dengan realitas.

Fahri dan cintanya pada Aisyah

Kalau ada kata yang menghubungkan antara Fahri dan wanita, itu adalah 'hormat'. Fahri sangat menghormati wanita, dan karena itulah Fahri menjadi sangat mudah membuat banyak wanita jatuh cinta padanya. Fahri tidak pernah menempatkan dirinya dengan wanita berahadap-hadapan dalam cinta. Bagi Fahri, cinta antara dirinya dengan seorang wanita selalu diantarai oleh Allah, maka siapapun wanita yang kelak akan dicintainya, itu adalah perwujudan cintanya pada Allah. Itulah sebabnya, Fahri tidak pernah gelisah karena cinta. Mungkin saja, ketika Fahri dan Aisyah bertemu untuk pertama kalinya, ada cinta yang terbersit dihati mereka, tapi mereka diam. Namun, pada akhirnya cinta mereka dipertemukan dalam kecintaan pada Rabbnya.

Ah, sudahlah.... semakin jauh aku menulis tentang ketiga tokoh rekaan ini, aku terasa semakin subjektif. Tapi biarlah... Setiap orang yang menonton dan membaca sebuah karya baik berupa film atau novel pasti punya penialaian masing-masing, dan kita tidak harus sepakat...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malu Pada Dunia

Kamis lalu, setelah keliling-keliling cari tempat makan untuk makan siang namun gak ada yang cocok, akhirnya pilihan jatuh pada warung waralaba asal Amerika milik seorang kolonel yang terkenal dengan ayam gorengnya itu. "Yang pasti-pasti saja," pikirku. Sebenarnya, banyak pilihan lain, tapi kondisi badan yang masih dalam tahap penyembuhan, membuat lidahku terkadang 'gak nerima' dengan makanan yang terlalu banyak rempahnya.
Di meja sebelahku, duduk empat orang gadis-gadis berpakaian SMA yang asyik ngobrol dan sesekali tertawa cekikikan. Salah satu yang mereka bahas, adalah tentang 'kemunculan' buaya berkalung ban di sungai Palu. Bukannya nguping, tapi suara mereka memang cukup keras untuk terdengar sampai di mejaku. Kemunculan buaya yang di lehernya melilit sebuah ban bekas sepeda motor itu, memang membuat warga kota Palu heboh. Apalagi setelah Muhammad Panji, atau yang lebih dikenal dengan sebuatan Panji Sang Petualang yang aksinya menaklukkan binatang-binat…

Super Blue Blood Moon

Malam ini, 31 Januari 2018 terjadi sebuah fenomena yang konon terakhir kali terjadi sekitar 152 tahun yang lalu. Fenomena tersebut adalah gerhana bulan yang disebut Super Blue Blood Moon. Nama yang indah untuk sebuah gerhana bulan. Dari penjelasan para ilmuwan, nama itu sebenarnya menggabungkan tiga nama sekaligus, yaitu Super Moon, Blue Moon, dan Blood Moon. Kenapa seperti itu? Karena memang fenomena yang terjadi malam ini adalah gabungan dari tiga fenomena tersebut. Luar biasa bukan? Fenomena pertama adalah Super Moon. Disebut seperti itu, karena bulan akan terlihat berukuran super alias lebih besar dari biasanya. Penyebabnya adalah karena bulan masih berada di titik terdekatnya dengan bumi. Berarti, jarak bulan dan bumi tidak selalu sama? Iya, karena jalur lintasan rotasi bulan mengelilingi bumi tidak berbentuk bulat sempurna. Fenomena kedua adalah Blue Moon. Istilah Blue Moon adalah istilah untuk bulan purnama yang terjadi dua kali dalam sebulan. Faktanya, di bulan Januari 2018 t…