Langsung ke konten utama

Super Blue Blood Moon

Super Blue Blood Moon, sumber: valuewalk.com

Malam ini, 31 Januari 2018 terjadi sebuah fenomena yang konon terakhir kali terjadi sekitar 152 tahun yang lalu. Fenomena tersebut adalah gerhana bulan yang disebut Super Blue Blood Moon. Nama yang indah untuk sebuah gerhana bulan. Dari penjelasan para ilmuwan, nama itu sebenarnya menggabungkan tiga nama sekaligus, yaitu Super Moon, Blue Moon, dan Blood Moon. Kenapa seperti itu? Karena memang fenomena yang terjadi malam ini adalah gabungan dari tiga fenomena tersebut. Luar biasa bukan?
Fenomena pertama adalah Super Moon. Disebut seperti itu, karena bulan akan terlihat berukuran super alias lebih besar dari biasanya. Penyebabnya adalah karena bulan masih berada di titik terdekatnya dengan bumi. Berarti, jarak bulan dan bumi tidak selalu sama? Iya, karena jalur lintasan rotasi bulan mengelilingi bumi tidak berbentuk bulat sempurna.
Fenomena kedua adalah Blue Moon. Istilah Blue Moon adalah istilah untuk bulan purnama yang terjadi dua kali dalam sebulan. Faktanya, di bulan Januari 2018 telah terjadi dua kali bulan purnama, yaitu pada tanggal 1 Januari 2018 dan malam ini, 31 Januari 2018. Indonesia adalah salah satu negara yang beruntung, karena pergantian siang dan malam yang tidak sama di semua belahan bumi, maka fenomena blue moon juga tidak terjadi di semua negara.
Fenomena ketiga adalah Blood Moon. Itu adalah istilah untuk gerhana bulan total, ketika bumi berada di antara matahari dan bulan, sehingga bayangan bumi menutupi bulan secara sempurna. Pada saat itu, bulan akan tampak berwarna merah seperti darah.
Hehe, kok jadi seperti pelajaran fisika yah? Tenang saja, aku juga sebenarnya hanya membaca dari berbagai sumber. Aku juga bukan penggemar fisika, namun paling tidak aku menuliskannya agar aku tidak lupa, dan menjadi pengingat bagiku bahwa malam ini telah terjadi fenomena Super Blue Blood Moon.
Tapi tunggu dulu, aku jadi memikirkan sesuatu. Sesekali, kita harus keluar dari rutinitas kita, seperti alam malam ini yang 'keluar dari rutinitasnya' sehingga menghadirkan sebuah fenomena langka nan indah bagi kita. Rutinitas memang terkadang mendatangkan kejenuhan, jadi sesekali keluarlah. Keluarlah dari cara kerja kita yang biasa, keluarlah dari cara pandang kita yang biasa, keluarlah dari cara berpikir kita yang biasa. Pokoknya, keluarlah dari yang biasa-biasa saja. Siapa tahu kita justru menemukan keindahan dari situ...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilan, Zainuddin, dan Fahri.

Akhir-akhir ini nama Dilan tiba-tiba menjadi trending topic dalam setiap pembicaraan, baik di dunia nyata, apalagi di dunia maya. Media sosial apapun, Facebook, Twitter, maupun Instagram tidak lepas dari pembicaraan tentang Dilan. Penasaran, sore tadi aku memutuskan untuk mengunjungi bioskop dan menonton film tentang Dilan. Judul filmnya, "Dilan 1990" disutradarai oleh Fajar Bustomi dan merupakan adaptasi dari novel karya Pidi Baiq yang berjudul "Dilan dia adalah Dilanku tahun 1990". Aku tidak akan mengomentari novel tersebut, karena aku juga belum pernah membaca secara lengkap novel tersebut, hanya membaca sedikit-sedikit dari penggalan-penggalan novel tersebut yang dishare oleh teman-teman di media sosial.
Tapi ketika menonton film tersebut, aku sangat tertarik dengan Om Dilan. Om Dilan? Iya, kalau pada tahun 1990 Dilan sudah SMA, berarti dia lebih pantas aku panggil Om. Karena pada tahun 1990 aku baru masuk kelas 1 Sekolah Dasar. Hehehe... Tokoh Dilan sangatlah…

Malu Pada Dunia

Kamis lalu, setelah keliling-keliling cari tempat makan untuk makan siang namun gak ada yang cocok, akhirnya pilihan jatuh pada warung waralaba asal Amerika milik seorang kolonel yang terkenal dengan ayam gorengnya itu. "Yang pasti-pasti saja," pikirku. Sebenarnya, banyak pilihan lain, tapi kondisi badan yang masih dalam tahap penyembuhan, membuat lidahku terkadang 'gak nerima' dengan makanan yang terlalu banyak rempahnya.
Di meja sebelahku, duduk empat orang gadis-gadis berpakaian SMA yang asyik ngobrol dan sesekali tertawa cekikikan. Salah satu yang mereka bahas, adalah tentang 'kemunculan' buaya berkalung ban di sungai Palu. Bukannya nguping, tapi suara mereka memang cukup keras untuk terdengar sampai di mejaku. Kemunculan buaya yang di lehernya melilit sebuah ban bekas sepeda motor itu, memang membuat warga kota Palu heboh. Apalagi setelah Muhammad Panji, atau yang lebih dikenal dengan sebuatan Panji Sang Petualang yang aksinya menaklukkan binatang-binat…