Langsung ke konten utama

Memahami Anak-Anak Kita


"Abi, abi... lihat ini," ucap anak bungsuku sambil memamerkan sebuah kertas di depan dadanya.
Aku yang baru keluar kamar mandi dan masih mengenakan handuk berjongkok di hadapanya. Aku mencoba memperhatikan coretan-coretan yang ada di atas kertas putih itu.
"Abi tahu ini gambar apa?" tanyanya.
Walaupun aku punya tebakan untuk gambar itu, tetapi aku memilih menggeleng. Aku ingin dia sendiri yang menceritakan gambarnya. Setidaknya, cara berbicaranya yang masih cadel bisa jadi hiburanku pagi ini sebelum disibukkan berbagai rutinitas kantor.
"Ini buaya," serunya.
"Oh yah?" responku dengan memasang ekspresi wajah sepenasaran mungkin.
"Iya, ini buaya. Buaya lakcaca, buaya monstel," jelasnya.
Dia lalu bercerita tentang seekor buaya raksasa yang keluar dari sungai. Sebetulnya, tebakanku dengan hasil penjelasannya hampir sama. Kalau ada yang tidak sama, itu karena imajinasinya sebagai anak kecil yang masih sangat liar. Tentu saja beda dengan orang dewasa yang imajinasinya dibatasi oleh logika dan rasionalitas.
Bungsuku itu bernama Hafidz Muslim Rabbani, ia baru berusia empat tahun lebih lima bulan. Tingkahnya lucu dan sangat ekspresif. Karena itulah aku senang menggodanya, terkadang kelewatan sampai ia menangis. Aku senang 'berantem' dengannya, kalau sudah begitu ia bisa berbicara panjang lebar untuk menyanggah pendapatku. Itu sangat menyenangkan bagiku.
***
Dunia anak-anak sangatlah berbeda dengan dunia orang dewasa, sayangnya kita sebagai orang dewasa sering tidak mengerti itu dan terkadang tidak sadar merenggut dunia mereka. Anak-anak berpikir dengan cara berbeda dengan orang dewasa. Orang dewasa selalu memikirkan fakta, tapi anak-anak kita justru membuktikan fakta. Seperti itulah mereka belajar. Jadi, terlalu banyak larangan justru akan menghambat proses belajar mereka.
Semenjak memiliki anak aku mulai membiasakan diri dengan rumah yang jarang rapi, keriuhan suara yang terkadang menganggu konsentrasi, atau coretan-coretan yang tiba-tiba muncul di dinding yang baru dicat. Awalnya sangat susah beradaptasi dengan kondisi seperti itu. Aku yang sudah biasa dalam keteraturan, tiba-tiba harus beradaptasi dengan keteraturan versi mereka. Ya, sedikit banyaknya aku terbantu dengan kesabaran ummi mereka.
Tentu saja, kita tidak melepas mereka begitu saja. Tetap ada kontrol dan pengawasan orang tua dalam setiap tingkah dan ekspresi mereka. Aku dan istri sepakat membatasi aktivitas menononton mereka, kami lebih membebaskan mereka bermain ketimbang membiarkan mereka duduk berjam-jam di depan TV. Kami juga mambatasi mainan mereka, sejak kecil mereka telah kami perkenalkan dengan buku. Tidak ada robot-robotan, dan sejenisnya. Mainan mereka adalah buku, dan kami konsisten mengajak mereka ke toko buku tiap bulan. 
Awalnya buku-buku yang kami berikan kepada mereka hanya dirobek, dicoret, atau digunting. Lalu tidak lama kemudian, ada sedikit perbaikan. Buku-buku yang mereka robek tidak lagi menjadi serpihan-serpihan kecil yang memenuhi ruangan, tapi menjadi pesawat-pesawat berbagi ukuran yang mereka terbangkan kesana-kemari. Sekarang? Alhamdulillah, sejak usia empat tahun anak sulungku Nahla Salsabila yang sekarang berusia enam tahun telah pandai membaca. Sedangkan adiknya juga sudah pandai membaca gambar, ia sering membaca buku-buku yang kami belikan tapi dengan cara mengarang cerita sendiri sesuai dengan penafsirannya terhadap gambar yang ada di buku.
Sudah selayaknya kita membiarkan anak-anak kita tumbuh secara alamiah, tidak memaksakan sesuatu. Kalaupun kita menginginkan sesuatu pada anak-anak kita, maka yang pertama harus kita lakukan adalah membuat anak kita mencintai sesuatu itu.
Misalnya, aku sangat ingin anak-anakku suka membaca buku. Mungkin, jika aku melakukannya dengan cara memaksa, itu justru akan kontraproduktif. Aku dan istri memulai dengan membangun kecintaan mereka dengan buku. Rumah aku 'penuhi' dengan buku, sehingga kemanapun mereka bergerak mereka akan melihat buku. Aku dengan sengaja membaca di depan mereka, membelikan mereka buku dengan banyak gambar, dan rutin mengajak mereka ke toko buku. Alhamdulillah, sekarang mereka sangat suka dengan buku. Mereka akan merengek sejadi-jadinya jika dalam sebulan tidak diajak ke toko buku, dan kalau minta hadiah atau oleh-oleh, pasti minta buku.

Komentar

  1. anak anak memang menjadi aset orangtua di masa depan, nice post kang, sangat menginspirasi,
    iweblogsite
    ukm medan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilan, Zainuddin, dan Fahri.

Akhir-akhir ini nama Dilan tiba-tiba menjadi trending topic dalam setiap pembicaraan, baik di dunia nyata, apalagi di dunia maya. Media sosial apapun, Facebook, Twitter, maupun Instagram tidak lepas dari pembicaraan tentang Dilan. Penasaran, sore tadi aku memutuskan untuk mengunjungi bioskop dan menonton film tentang Dilan. Judul filmnya, "Dilan 1990" disutradarai oleh Fajar Bustomi dan merupakan adaptasi dari novel karya Pidi Baiq yang berjudul "Dilan dia adalah Dilanku tahun 1990". Aku tidak akan mengomentari novel tersebut, karena aku juga belum pernah membaca secara lengkap novel tersebut, hanya membaca sedikit-sedikit dari penggalan-penggalan novel tersebut yang dishare oleh teman-teman di media sosial.
Tapi ketika menonton film tersebut, aku sangat tertarik dengan Om Dilan. Om Dilan? Iya, kalau pada tahun 1990 Dilan sudah SMA, berarti dia lebih pantas aku panggil Om. Karena pada tahun 1990 aku baru masuk kelas 1 Sekolah Dasar. Hehehe... Tokoh Dilan sangatlah…

Malu Pada Dunia

Kamis lalu, setelah keliling-keliling cari tempat makan untuk makan siang namun gak ada yang cocok, akhirnya pilihan jatuh pada warung waralaba asal Amerika milik seorang kolonel yang terkenal dengan ayam gorengnya itu. "Yang pasti-pasti saja," pikirku. Sebenarnya, banyak pilihan lain, tapi kondisi badan yang masih dalam tahap penyembuhan, membuat lidahku terkadang 'gak nerima' dengan makanan yang terlalu banyak rempahnya.
Di meja sebelahku, duduk empat orang gadis-gadis berpakaian SMA yang asyik ngobrol dan sesekali tertawa cekikikan. Salah satu yang mereka bahas, adalah tentang 'kemunculan' buaya berkalung ban di sungai Palu. Bukannya nguping, tapi suara mereka memang cukup keras untuk terdengar sampai di mejaku. Kemunculan buaya yang di lehernya melilit sebuah ban bekas sepeda motor itu, memang membuat warga kota Palu heboh. Apalagi setelah Muhammad Panji, atau yang lebih dikenal dengan sebuatan Panji Sang Petualang yang aksinya menaklukkan binatang-binat…

Super Blue Blood Moon

Malam ini, 31 Januari 2018 terjadi sebuah fenomena yang konon terakhir kali terjadi sekitar 152 tahun yang lalu. Fenomena tersebut adalah gerhana bulan yang disebut Super Blue Blood Moon. Nama yang indah untuk sebuah gerhana bulan. Dari penjelasan para ilmuwan, nama itu sebenarnya menggabungkan tiga nama sekaligus, yaitu Super Moon, Blue Moon, dan Blood Moon. Kenapa seperti itu? Karena memang fenomena yang terjadi malam ini adalah gabungan dari tiga fenomena tersebut. Luar biasa bukan? Fenomena pertama adalah Super Moon. Disebut seperti itu, karena bulan akan terlihat berukuran super alias lebih besar dari biasanya. Penyebabnya adalah karena bulan masih berada di titik terdekatnya dengan bumi. Berarti, jarak bulan dan bumi tidak selalu sama? Iya, karena jalur lintasan rotasi bulan mengelilingi bumi tidak berbentuk bulat sempurna. Fenomena kedua adalah Blue Moon. Istilah Blue Moon adalah istilah untuk bulan purnama yang terjadi dua kali dalam sebulan. Faktanya, di bulan Januari 2018 t…